Bedah Buku : 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif (The 7 Habbits of Highly Efective People)

Kali ini saya dengan segala keterbatasan, mencoba kembali mengupas buku karangan Dr. Sthephen R. Covey yang berjududul The 7 Habbits of Highly Efective People. Buku 7 kebiasaan manusia efektif ini mengupas tentang bagaimana tujuh kebiasaan efektif manusia ini bukanlah reformasi total sikap tetapi lebih merupakan step by step yang harus kita lakukan, pelajari dan aktualisasikan untuk menyesuaikan setiap perubahan dalam kehidupan di berbagai bidang. Untuk lebih jelasnya mari kita coba fahami apa yang di sampaikan Dr. Sthepen R. Covey bab per bab.

7 Kebiasaan Manusia Efektif
7 Kebiasaan Manusia Efektif

Paradigma dan Prinsip

Dari Dalam ke Luar

Pada sub bab ini, menjelaskan seberapa besar pun usaha yang kita lakukan untuk merubah situasi, Jika persepsi kita atas situasi tersebut tidak selaras dengan apa yang kita bayangkan dan kita harapkan, maka situasi tersebut tidak akan pernah berubah. Artinya saat akan melakukan perubahan, hal pertama yang dilakukan orang-orang efektif adalah persepsi kita akan masalah/situasi tersebut harus selaras.

Untuk lebih jelas, Dr Stephen R. Covey memberi contoh :

Usaha nya untuk merubah seorang anak yang kurang cakap dan agak ‘Terbelakang’ untuk bisa bermain baseball mengalami kegagalan, MENGAPA ?

Karena setelah di teliti meskipun beliau selalu memberikan dorongan, semangat positif kepada anak tersebut, ternyata setelah di dalami hal positif yang keluar dari mulutnya tidak selaras dengan apa yang bergejolak di dalam hatinya. Secara jujur, di dalam hatinya persepsi yang muncul adalah : Nak, kamu memang tidak cakap, kamu memang perlu dilindungi dan kamu memang tidak mampu.

Artinya semangat apapun yang diberikan kepada sang anak, seolah-olah tidak memiliki spirit yang keluar dari hati atau tidak selaras. Untuk menghadapi masalah ini, diharapkan perbaiki terlebih dahulu persepsinya, karena persepsi ini akan mengubah cara kita dalam menyelesaikan masalah. Jika kita berkata TIDAK maka persepsipun harus berkata TIDAK. Sebaliknya jika persepsi berkata BISA maka cara pandang kita pun akan mencari jalan keluar untuk BISA.

Etika Kepribadian dan Etika Karakter

Sebelum perang dunia ke I, etika karakter menjadi sesuatu yang fundamental bagi masyarakat, dimana persepsi apa yang mereka/orang lain berbuat kepada kita tergantung dari apa yang kita perbuat kepada mereka. Lebih-lebih hal ini di contohkan secara jelas oleh Benjamin Franklin dalam autobiografinya.

Menurut Dr. Stephen R. Covey, prinsip dasar etika karakter ini mulai bergerak ke arah etika kepribadian setelah perang dunia ke I. Tetapi menurut saya, etika karakter ini tidak benar-benar ditinggalkan, masih banyak orang-orang yang menganut prinsip dasar etika karakter ini di dalam kehidupannya. Terutama di Indonesia prinsip dasar etika karakter sangat melekat kuat di kepribadian kita. Pertanyaannya apakah perbedaan cara pandang ini yang membuat kita tertinggal beberapa langkah dari negara-negara maju lain ?. Untuk lebih jelasnya mari kita simak pembahasan berikutnya.

Menurut Dr. Stephen R. Covey, etika karakter ini hanya bagian terkecil dari prinsip dasar keberhasilan seseorang karena lebih banyak bersifat manipulatif, persepsinya dipaksakan kepada cara pandang masyarakat secara umum. Seperti dicontohkan pada cara pandang masyarakat secara umum, anak-anak “Terbelakang” adalah masyarakat/orang-orang lemah yang harus dilindungi dan tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi kehidupan. Dengan demikian, etika karakter tidak sepenuhnya salah, hanya saja etika karakter ini hanya merupakan salah satu bahan dari sebuah keberhasilan tetapi cenderung mengkotak-kotakan dan belum bisa menyadarinya sebagai hal yang mendasar.

Kemudian bagaimana dengan etika kepribadian ?. Etika kepribadian lebih memahami orang berdasarkan nilai yang ada pada dirinya, tidak memaksakan keberhasilan secara umum, tetapi lebih menerima semua kondisi yang ada pada dirinya, menerima semua kekurangannya nya yang unik, merubah pola pikir pribadi kita terhadap pandangan sosial menjadi sesuatu pandangan yang dapat diterma dan sesuai dengan cara pandang orang tersebut. Dicontohkan : Dr. Stephen R. Covey mulai menerima semua kekurangan anaknya sebagai sesuatu yang lain, menyadari bahwa keberhasilan anaknya ini berbeda dengan keberhasilan anak normal lainnya, dengan memberikan kepercayaan kepada anaknya sesuai dengan kemampuan dan tidak memaksakan keberhasialan berdasarkan pandangan sosial secara umum.

Kebesaran Primer dan Sekunder

Pada dasarnya, manusia memiliki sifat alam yang tidak bisa secara radikal dirubah, bisa saja kita memaksakan perubahan secara drastis menggunakan prinsip etika kepribadian, tapi sifatnya akan sementara. Seperti dicontohkan : Bisa saja kita meraih nilai-nilai yang sangat bagus karena belajar sebelum ujian tetapi hasilnya akan jauh berbeda dengan belajar setiap hari untuk mencapai nilai yang bagus. Belajar menjelang ujian adalah kebesaran sekunder, bersifat sementara bahkan mungkin setelah ujian semua yang kita pelajari akan hilang dari kepala kita. Berbeda dengan kebesaran primer yang belajar hari per hari sehingga semua yang kita pelajari meresap ke dalam kepala kita dan tertanan secara permanen.

Kekuatan Paradigma

Paradigma adalah cara pandang, penilaian yang timbul atas dasar pengalaman-pengalaman masa lalu yang kita lihat sebagai fakta. Setiap orang memiliki latar belakang pengalaman masa lalu yang berbeda-beda yang mempengaruhi dasar penilaian kita. Jadi saat kita menjelaskan permasalahan yang timbul, sebenarnya kita sedang menceritakan pengalaman pribadi kita di masa lalu. Di buku 7 habbits, Dr. Stephen R. Covey mencontohkan (lihat halaman 31 selama beberapa detik kemudian lihat halaman 34. Kemudian lihat gambar di halaman 54 beberapa detik, kemudian lihat kembali gambar di halaman 34) : Sekelompok mahasiswa yang melihat halaman 31 terlebih dahulu, saat melihat gambar di halaman 34 akan menjelaskan bahwa gambar di halaman 34 adalah wanita muda dan cantik. Tapi sebaliknya mahasiswa yang melihat gambar di halaman 54 terlebih dahulu akan melihat wanita tua di gambar halaman 34. Berdasarkan contoh tersebut, kita bisa melihat bagaimana cara pandang kita terhadap sesuatu sangan dipengaruhi oleh masa lalu kita.

Dengan demikian, orang-orang efektif tidak pernah membuang waktu untuk saling mengkonfrontasi masalah yang ada, tetapi menyelidiki masalah yang ada berdasarkan fakta-fakta yang timbul. Alih-alih mempertahankan wanita muda dan wanita tua, sekelompok orang efektif akan lebih menyelidiki kenapa sekelompok mahasiswa berkata wanita muda sedangkan kelompok lain mengatakan wanita tua. Dengan demikian cara pandang/paradigma orang efektif menjadi jauh lebih luas dibanding orang-orang kebanyakan.

Kekuatan Perubahan Paradigma

Jika kita lihat perubahan penilaian atas gambar wanita muda dan wanita tua di atas, saat menyadari dua pandangan yang berbeda atas persepsi masing-masing kelompok dapat dilihat betapa besar pengaruh pengalaman masa lalu terhadap masa kini, dan timbulnya cara pandang yang berbeda membuat masing-masing kelompak berubah persepsinya. Memang didalam kehidupan tidak semua perubahan itu posifit. Tetapi perubahan yang terjadi baik ke arah positif maupun negatif, tetap akan merubah cara pandang kita terhadap dunia dengan cara lain.

Melihat fenomena di atas, jelas bahwa jika kita ingin membuat perubahan yang bersifat tetap dan mempengaruhi kehidupan dalam jangka panjang, maka yang harus dilakukan adalah merubah persepsi dasar kita. Dengan demikian kita akan melihat permasalahan dengan cara yang berbeda.

Paradigma yang Berpusat pada Prinsip

Pada bab ini Dr. Stephen R. Covey menjelaskan ada beberapa paradigma yang tidak bisa di rubah, paradigma ini adalah paradigma prinsip, dimana sifat nya adalah kekal. Paradigma prinsip adalah paradigma pedoman perilaku yang memiliki sifat dasar yang tidak bisa di sangkal.

Semakin kita faham dengan paradigma prinsip ini, semakin mudah bagi kita untuk memahami bagaimana cara melihat permasalahan dengan cara yang berbeda, efektif dan akurat.

Kesimpulan 7 Kebiasaan Manusia Efektif

Di buku ini Dr. Stephen R. Covey menyimpulkan ada 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif :

  1. Proaktif : Jadilah Proaktif adalah tentang mengambil tanggung jawab untuk hidup Anda. Anda tidak bisa terus menyalahkan semua orang tua atau kakek-nenek Anda. Orang yang proaktif menyadari bahwa mereka “responsif”. Mereka tidak menyalahkan genetika, keadaan, kondisi, atau pengkondisian untuk perilaku mereka. Mereka tahu mereka memilih tingkah lakunya. Orang yang reaktif, di sisi lain, sering terpengaruh oleh lingkungan fisik mereka. Mereka menemukan sumber eksternal yang harus disalahkan atas perilaku mereka. Jika cuacanya bagus, mereka merasa enak. Jika tidak, itu mempengaruhi sikap dan penampilan mereka, dan mereka menyalahkan cuaca. Semua kekuatan eksternal ini bertindak sebagai rangsangan yang kita tanggapi. Antara rangsangan dan respons adalah kekuatan terbesar Anda – Anda memiliki kebebasan untuk memilih respons Anda. Salah satu hal terpenting yang Anda pilih adalah apa yang Anda katakan. Bahasa Anda adalah indikator bagus tentang bagaimana Anda melihat diri Anda sendiri. Orang yang proaktif menggunakan bahasa proaktif – saya dapat, saya akan, saya lebih suka, dan lain-lain. Orang yang reaktif menggunakan bahasa reaktif – saya tidak bisa, saya harus, jika saja. Orang yang reaktif percaya bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka katakan dan lakukan – mereka tidak memiliki pilihan lain.
  2. Mulai dengan tujuan akhir : Salah satu cara terbaik untuk memasukkan Kebiasaan 2 ke dalam hidup Anda adalah dengan mengembangkan Pernyataan Misi Pribadi. Ini berfokus pada apa yang Anda inginkan dan lakukan. Ini adalah rencana kesuksesan Anda. Ini menegaskan kembali siapa diri Anda, menempatkan tujuan Anda dalam fokus, dan menggerakkan gagasan Anda ke dunia nyata. Pernyataan misi Anda membuat Anda menjadi pemimpin hidup Anda sendiri. Anda menciptakan takdir Anda sendiri dan menjamin masa depan yang Anda bayangkan.
  3. Put first Think First : lakukan skala prioritas, Kebiasaan ini adalah dimana kebiasaan 1 dan 2 datang bersama. Hal itu terjadi berhari-hari, momen demi momen. Ini berkaitan dengan banyak pertanyaan yang dibahas di bidang manajemen waktu. Tapi bukan itu masalahnya. Kebiasaan 3 adalah tentang pengelolaan kehidupan juga – tujuan, nilai, peran, dan prioritas Anda. Apa itu “hal pertama?” Hal pertama adalah hal-hal yang secara pribadi Anda temukan paling berharga. Jika Anda mengutamakan hal pertama, Anda mengatur dan mengelola waktu dan acara sesuai dengan prioritas pribadi yang Anda tetapkan dalam Kebiasaan 2.
  4. Berfikir menang – menang : Menang-menang melihat kehidupan sebagai arena koperasi, bukan yang kompetitif. Menang-menang adalah kerangka pikiran dan hati yang selalu mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia. Win-win berarti kesepakatan atau solusi saling menguntungkan dan memuaskan.
  5. Belajar memahami terlebih dahulu, agar bisa dipahami : Jika Anda seperti kebanyakan orang, Anda mungkin mencari terlebih dahulu untuk dipahami; Anda ingin menyampaikan maksud Anda. Dan dengan berbuat demikian, Anda mungkin mengabaikan orang lain sepenuhnya, berpura-pura bahwa Anda mendengarkan, selektif hanya mendengar bagian percakapan tertentu atau dengan penuh perhatian hanya berfokus pada kata-kata yang sedang diucapkan, tapi rindu maknanya sepenuhnya. Jadi mengapa ini terjadi? Karena kebanyakan orang mendengarkan dengan maksud membalas, tidak mengerti. Anda mendengarkan diri Anda saat Anda mempersiapkan di dalam pikiran Anda apa yang akan Anda katakan, pertanyaan yang akan Anda tanyakan, dll. Anda memfilter semua yang Anda dengar melalui pengalaman hidup Anda, kerangka acuan Anda. Anda memeriksa apa yang Anda dengar terhadap otobiografi Anda dan melihat bagaimana tindakannya dilakukan. Dan akibatnya, Anda memutuskan secara prematur apa yang orang lain maksudkan sebelum dia selesai berkomunikasi.
  6. Sinergi : Sederhananya, sinergi berarti “dua kepala lebih baik dari satu.” Bersinergi adalah kebiasaan kerja sama kreatif. Ini adalah kerja tim, keterbukaan pikiran, dan petualangan menemukan solusi baru untuk masalah lama. Tapi itu tidak terjadi begitu saja. Ini adalah proses, dan melalui proses itu, orang membawa semua pengalaman dan keahlian pribadi mereka ke meja. Bersama-sama, mereka bisa menghasilkan hasil yang jauh lebih baik sehingga mereka dapat secara individu. Sinergi memungkinkan kita menemukan hal-hal bersama yang jarang kita temukan oleh diri kita sendiri. Ini adalah gagasan bahwa keseluruhannya lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya. Satu ditambah satu sama dengan tiga, atau enam, atau enam puluh.
  7. Asahlah agar tajam : Merasa baik tidak terjadi begitu saja. Hidup dalam keseimbangan berarti mengambil waktu yang diperlukan untuk memperbarui diri. Semua terserah padamu. Anda bisa memperbaharui diri Anda melalui relaksasi. Atau Anda benar-benar bisa membakar diri dengan melakukan segala hal secara berlebihan. Anda bisa memanjakan diri sendiri secara mental dan spiritual. Atau Anda bisa melewati kehidupan yang tidak menyadari kesejahteraan Anda. Anda bisa mengalami energi yang semarak. Atau Anda bisa menunda-nunda dan kehilangan manfaat kesehatan dan olahraga yang baik. Anda bisa merevitalisasi diri dan menghadapi hari baru dengan damai dan harmonis. Atau Anda bisa bangun di pagi hari dengan penuh apatis karena Anda bisa-dan-pergi sudah bangun dan pergi. Ingatlah bahwa setiap hari memberikan kesempatan baru untuk pembaharuan – kesempatan baru untuk mengisi ulang diri Anda alih-alih memukul dinding. Yang dibutuhkan hanyalah keinginan, pengetahuan, dan keterampilan.

Di ambil dari buku : The 7 Habits of Higly Effective People


Next (3rd Alternative)

Ads by WP QUADS

Tinggalkan Balasan